Selasa, 15 Januari 2013
Intelectual Social Responsibility (ISR) Program FastTrack Ilmu Administrasi Universitas Diponegoro
Sebagai mahasiswa program Fast Track Universitas Diponegoro, saya memiliki tugas untuk melaksanakan kegiatan ISR. Saya bersama teman - teman dibagi atas dua kelompok, yaitu kegiatan ISR yang dilaksanakan di SMA Negri 11 Semarang dan di SMK Negri 7. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Agustus 2012. Saya pribadi ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan ISR di SMK N 7, namun pada waktu itu SMK N 7 sedang tidak ada kegiatan yang dapat kami laksanakan karan terkait agenda kegiatan dari SMK N 7 yang masih padat, sehingga saya ikut berpartisipasi untuk mengikuti kegiatan ISR di SMA N 11. Ketika itu di SMa N 11 sedang dilaksanakan class meetting sehingga banyak sekali kegiatan, ada berbagai macam lomba yang diadakan atas kerjasama OSIS dan kami sebagai mahasiswa yang melaksanakan ISR disana. Kami menjadi pembimbing, koordinator, serta berpartisipasi menjadi dewan juri untuk beberapa perlombaan sebagai berikut:
1. Lomba Memecahkan Air
2. Lomba kebersihan kelas
3. Lomba Sepak Bola
4. Lomba Mengambil Koin dalam Pepaya
5. Lomba Sepak Bola
Kemudian setelah mendapatkan kesempatan dari SMK N 7, saya memulai kegiatan ISR bersama dengan teman - teman yang lain. Kegiatan yang kami laksanakan antara lain yaitu ikut mengisi acara ketika penerimaan siswa baru, kemudian melaksanakan kagiatan bakti sosial yaitu membagikan makanan untuk buka puasa bagi orang - orang yang kurang mampu.
Mudah - mudahan apa yang saya dan teman teman lakukan dapat bermanfaat tidak hanya untuk diri saya sendiri namun juga bermanfaat bagi orang lain. sangat membanggakan bagi saya sehingga dapat melakukan kegiatan positif ini :)
Senin, 14 Januari 2013
Kebijakan Publik
Pengertian Kebijakan
·
H Lasswell dan Kaplan : sebuah program
yang diproyeksikan tujuan, nilai-nilai dan praktek.
·
Carl J. Federick : (serangkaian tindakan
yang diusulkan seorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan
tertentu dengan menunjukkan hambatan-hambatan dan kesempatan-kesempatan
terhadap pelaksanaan usulan kebijakan tersebut dalam rangka mencapai tujuan
tertentu).
·
AMARA RAKSASATAYA : suatu taktik dan
strategi yang diarahkan untuk mencapai suatu tujuan. Karena itu suatu kebijakan
memuat tiga elemen:
a. Identifikasi
dari tujuan yang ingin dicapai
b. Taktik
atau strategi dari berbagai langkah untuk mencapai tujuan yang diinginkan
c. Penyediaan
berbagai input untuk memungkinkan pelaksanaan secara nyata taktik atau strategi
PENGERTIAN KEBIJAKAN PUBLIK
·
Thomas Dye : Apapun yang dilakukan
pemerintah ataupun yang tidak dilakukan pemerintah
·
Willian Jenkis : satu set dari yang
saling terkait keputusan yang diambil oleh seorang aktor atau kelompok dari
aktor politik mengenai sarana dan cara untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan
yang berada dalam situasi di mana orang orang yang ditentukan keputusan yang
harus berada pada prinsipnya , dari mereka untuk mencapai aktor yang berada
dalam kekuasaan
·
James Anderson : sebuah tujuan tindakan
diikuti oleh seorang aktor atau set aktor dalam berurusan dengan masalah atau
masalah perhatian
APA ITU KEBIJAKAN PUBLIK ?
·
Carl J. Federick : (serangkaian tindakan
yang diusulkan seorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan
tertentu dengan menunjukkan hambatan-hambatan dan kesempatan-kesempatan
terhadap pelaksanaan usulan kebijakan tersebut dalam rangka mencapai tujuan
tertentu).
MENGAPA MEMPELAJARI KEBIJAKAN
PUBLIK ?
·
Alasan ilmiah. Kebijakan publik dapat
belajar untuk memperoleh pengetahuan yang lebih besar tentang asal-usul,
prosesses yang dikembangkan dan konsekuensi-konsekuensinya bagi masyarakat.
·
Alasan yang profesional . Don k . harga
yang membuat sebuah distiction antara scientific estate yang berusaha hanya
untuk menemukan pengetahuan , dan professional estate yang berusaha untuk
menerapkan pengetahuan ilmiah untuk pratical solusi dari masalah sosial
·
Alasan politik . studi tentang kebijakan
publik harus diarahkan ke arah yang tepat untuk menjamin bahwa pemerintah
mengambil kebijakan untuk mencapai tujuan yang benar .
KEBIJAKAN
1. kebijakan
yang menuntut mereka di atas permintaan atau tuntutan yang dibuat oleh para
pejabat publik yang aktor lainnya , atau swasta yang resmi , dalam sistem
politik pada beberapa tindakan untuk permasalahan percieved atau tidak
bertindak .
2. keputusan
kebijakan keputusan yang dibuat oleh pejabat publik yang mengotorisasi atau
diberikan arah dan isi untuk tindakan kebijakan publik .
3. Pernyataan
kebijakan adalah ekspresi formal atau artikulasi dari kebijakan publik.
4. hasil
kebijakan adalah tangible manifestations kebijakan publik , hal yang sebenarnya
dilakukan dalam kebijakan pursuance keputusan dan pernyataan
5. Hasil-hasil
kebijakan adalah konsekuensi bagi masyarakat, dimaksudkan atau tidak
diinginkan, yang mengalir dari tindakan atau kelambanan pemerintah.
·
PP itu merupakan penetapan
tindakan-tindakan pemerintah
·
PP tidak hanya dinyatakan tetapi
dilaksanakan
·
PP baik untuk melakukan sesuatu atau
tidak melakukan sesuatu itu mempunyai dan dilandasi dengan maksud dan tujuan
tertentu
·
PP harus senantiasa ditujukan untuk
kepentingan masyarakat
PENGAMBILAN KEPUTUSAN DAN
PEMBUATAN KEBIJAKAN
·
Willian R Dill : keputusan adalah
pilihan antara alternatif
·
BINTORO TJOKROAMIDJOJO :pengambilan
keputusan adalah pengambilan pilihan suatu alternatif dari berbagai alternatif
yang bersaing mengenai sesuatu hal dan selesai. Sedang policy-making meliputi
banyak pengambilan keputusan. Jadi menurut BT, apabila pemilihan alternatif itu
sekali dilakukan dan selesai, maka itu adalah decision-making, sebaliknya
pemilihan alternatif itu terus menerus dan tidak pernah selesai, maka kegiatan
tersebut adalah policy-making.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PEMBUATAN KEBIJAKAN
1. Adanya
pengaruh tekanan-tekanan dari luar
2. Pengaruh
kebiasaan lama (konservatisme)
3. Pengaruh
sifat-sifat pribadi
4. Pengaruh
keadaan masa lalu
5. Sulit
memperoleh informasi yang cukup
Masalah
– masalah Kebijakan
1. Didasarkan
pada orang atau aktor yang terlibat dalam isu tersebut :
·
private problems (melibatkan sedikit
orang)
·
public problems (melibatkan banyak
orang)
2. Didasarkan
pada lokusnya :
·
procedural problems (masalah pengorganisasian dan bekerjanya
birokrasi pemerintah dalam mengimplementasikan kebijakan yang lebih tinggi)
·
substantive problems (masalah tentang isi dan tujuan kebijakan itu
sendiri)
3. Didasarkan
pada kebaruan masalah :
·
Rutin (masalah lama)
·
Krisis (masalah baru)
4. Didasarkan
pada artikulasinya :
·
selected problems (masalah yang ditentukan sendiri oleh pembuat
kebijakan)
·
pressing problems (masalah yang
didesakkan oleh pelaku lain)
5. Didasarkan
pada sifat kebijakan yang akan dirumuskan untuk memecahkan masalah :
·
distributive problems (dapat diselesaikan satu per satu, melibatkan
sedikit orang)
·
Redistributive problems (pentransferan
sumber daya antar kelompok masyarakat, bersifat konfliktif)
IMPLIKASI DARI KONSEP-KONSEP
KEBIJAKAN PUBLIK:
·
Pertama: bertujuan atau tujuan
berorientasi tindakan daripada perilaku acak atau kesempatan.
·
Kedua: kebijakan concists kursus atau
pola tindakan oleh pejabat pemerintah daripada keputusan diskrit mereka
terpisah.
·
Ketiga: kebijakan adalah apa yang
benar-benar lakukan pemerintah.
·
Keempat: kebijakan publik mungkin
positif atau negatif dalam bentuk.
·
Kelima: kebijakan publik setidaknya
dalam bentuk yang positif, didasarkan pada hukum dan otoritatif.
TENTANG MASALAH
1. Peristiwa-peristiwa
dalam masyarakat ditafsirkan dalam berbagai cara oleh orang-orang yang berbeda
pada waktu yang berbeda.
2. Banyak
masalah dapat mengakibatkan dari acara yang sama.
3. tidak
semua masalah adalah bertindak pada publik dalam pemerintahan .
4. banyak
masalah pribadi yang bertindak di dalam pemerintahan .
5. banyak
masalah pribadi yang bertindak di dalam pemerintahan seakan akan mereka masalah
publik .
6. sebagian
besar masalah adalah tidak diselesaikan oleh pemerintah , meskipun banyak yang
bertindak di sana .
7. pembuat
policy tidak dihadapkan dengan suatu problem .
8. kebanyakan
orang tidak menjaga kepentingan people s masalah lain .
9. masalah
umum mungkin tidak memiliki sebuah publik di antara mereka mendukung secara
langsung dipengaruh
TENTANG PENGAMBILAN KEPUTUSAN
KEBIJAKAN
1. Banyak
aktor kebijakan dilanjutkan seolah-olah tujuan yang jelas.
2. Sebagian
besar keputusan yang membuat didasarkan pada sedikit informasi dan komunikasi
yang buruk
3. Masalah
dan tuntutan terus-menerus sedang didefinisikan dan didefinisikan ulang dalam
proses kebijakan.
4. Para
pembuat kebijakan kadang-kadang menentukan masalah bagi orang-orang yang tidak
didefinisikan masalah untuk diri mereka sendiri.
5. Kebanyakan
orang tidak memilih perubahan besar.
6. Kebanyakan
orang tidak dapat mengidentifikasi kebijakan publik.
7. Semua
kebijakan sistem memiliki bias.
8. Sistem
ideal kebijakan tidak ada selain preferensi arsitek sistem itu.
9. Kebanyakan
pengambilan keputusan tambahan di alam.
New Public Management
NPM secara umum dipandang sebagai
suatu pendekatan dalam administrasi publik yang menerapkan pengetahuan dan
pengalaman yang diperoleh dalam dunia manajemen bisnis dan disiplin yang lain
untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas kinerja pelayanan publik pada
birokrasi modern.
NPM adalah suatu
sistem manajemen desentral dengan perangkat-perangkat manajemen baru seperti controlling,
benchmarking dan lean management. Bagi yang lain, NPM
dipahami sebagai privatisasi sejauh mungkin atas aktivitas pemerintah.
manajemen kualitas
New Public Management (NPM)
merupakan sistem manajemen administrasi publik yang paling aktual di seluruh
dunia dan sedang direalisasikan di hampir seluruh negara industri. Sistem ini
dikembangkan di wilayah anglo Amerika sejak paruh kedua tahun 80-an dan telah
mencapai status sangat tinggi khususnya di Selandia Baru. Perusahaan-perusahaan
umum diprivatisasi, pasar tenaga kerja umum dan swasta dideregulasi, dan
dilakukan pemisahan yang jelas antara penetapan strategis wewenang negara oleh
lembaga-lembaga politik (APA yang dilakukan negara) dan pelaksanaan operasional
wewenang oleh administrasi (pemerintah) dan oleh badan penanggungjawab yang independen
atau swasta.
Asal-Mula NPM
Pendekatan
NPM atas manajemen publik bangkit selaku kritik atas birokrasi. Selama ini,
birokrasi erat dikaitkan dengan manajemen sektor publik itu sendiri. Birokrasi
dianggap erat berkait dengan keengganan maju, kompleksitas hirarki jabatan dan
tugas, serta mekanisme pembuatan keputusan yang top-down. Juga, birokrasi
dituduh telah menjauhkan diri dari harapan publik.
Fokus
dari NPM sebagai sebuah gerakan adalah, pengadopsian keunggulan teknik
manajemen perusahaan swasta untuk diimplementasikan dalam sektor publik dan
pengadministrasiannya. Sementara pemerintah distereotipkan kaku, birokratis,
mahan, dan inefisien, sektor swasta ternyata jauh lebih berkembang karena
terbiasa berkompetisi dan menemukan peluang-peluang baru. Sebab itu, sektor
swasta banyak melakukan inovasi-inovasi baru dan prinsip-prinsip
kemanajemenannya.
Dalam
NPM, pemerintah dipaksa untuk mengadopsi, baik teknik-teknik administrasi
bisnis juga nilai-nilai bisnis. Ini meliputi nilai-nilai seperti kompetisi,
pilihan pelanggan, dan respek atas semangat kewirausahaan. Sejak tahun 1990-an,
reformasi-reformasi di sektor publik menghendaki keunggulan-keunggulan yang ada
di sektor swasta diadopsi dalam prinsip-prinsip manajemen sektor publik.
NPM memiliki ciri-ciri berikut:
a.
Pengendalian yang berorientasi pada persaingan
dengan cara pemisahan wewenang antara pihak yang memberi dana dan pihak
pelaksana tugas
b.
Pemfokusan pada efektifitas, efisiensi dan mutu
pelaksanaan tugas
c.
Pemisahan manajemen strategis dari manajemen
operasional dalam pemberian order dan anggaran umum
d.
Pelaksana order swasta dan pemerintah diperlakukan
sama.
e.
Adanya upaya meningkatkan inovasi yang terarah
(sebagai bagian dari order kerja) karena adanya pendelegasian (bukan hanya
desentralisasi) manajemen
f.
operasional.produk
Tanggungjawab total
Tujuan New Public
Management (NPM)
Tujuan New Public Management
adalah untuk merubah administrasi publik sedemikian rupa sehingga, kalaupun
belum bisa menjadi perusahaan, ia bisa lebih bersifat seperti perusahaan.
Administrasi publik sebagai penyedia jasa bagi warga harus sadar akan tugasnya
untuk menghasilkan layanan yang efisien dan efektif. Tapi, di lain pihak ia
tidak boleh berorientasi pada laba. Padahal ini wajib bagi sebuah perusahaan
kalau ia ingin tetap bertahan dalam pasar yang penuh persaingan.
Tuntutan dan Prasyarat New Public
Management (NPM)
Langkah untuk menerapkan New
Public Management bisa dilakukan dengan syarat
ada cukup jumlah pendukung “yang
kritis” yang menghendaki reformasi. Para pendukung ini harus berasal dari
administrasi (pemda, pemkot) dan politik, berarti mereka harus seorang birokrat dan
politisi. Warga juga akan setuju dengan penerapan NPM ini karena mereka banyak
mengkritisi kelemahan atau kinerja administrasi yang lemah. Namun demikian,
reformasi ini harus didukung bersama agar warga bisa memberikan tekanan yang
dibutuhkan terhadap politisi dan pihak administrasi untuk menyelesaikan proses
reformasi dengan sukses.
Harus jelas bahwa restrukturisasi
seperti ini punya harga, tapi harus disadari pula
bahwa penghematan yang dihasilkan
reformasi ini bisa dengan mudah membiayai kembali investasi. Akan tetapi,
sebelum upaya penerapan New Public Management ini bisa direalisasikan, harus
diciptakan dulu prakondisi, yakni pertama, batasan tanggung jawab antara unit
perencana dan unit pelaksana (politik dan administrasi) dan perangkat sumber
daya yang bersifat desentral.
Perangkat-perangkat New Public
Management
a.
Manajemen kontrak
Penyelenggaraan administrasi publik selama ini
ditandai dengan keputusan keputusan yang bersifat hirarkis dan berdasarkan
petunjuk-petunjuk khusus. Dengan perangkat manajemen kontrak, praktek ini akan
diubah yakni dengan membuat kesepakatan tentang biaya dan apa yang harus
dikerjakan.
Manajemen kontrak adalah penyelenggaraan
administrasi melalui kesepakatan-kesepakatan tentang tujuan yang hendak
dicapai. Kesepakatan ini mencakup mulai dari tujuan yang hendak diraih hingga
pengawasan terhadap proses pencapaian tujuan tersebut. Landasan manajemen
kontrak adalah kontrak atau perjanjian antara pihak-pihak yang membuat
perjanjian,yang dimaksud dengan manajemen kontrak di sini bukanlah kontrak atau
perjanjian-perjanjian yang mengikat secara hukum seperti halnya dalam dunia
bisnis, tapi menyangkut kesepakatan tujuan yang bersifat mengikat tentang
jangka waktu yang telah ditetapkan.
b.
Penyerahan tanggung jawab di bidang sumber daya
Memutuskan sendiri bagaimana memaksimalkan sumber daya agar dapat hasil
yang maksimal.
c.
Orientasi pada hasil kerja (output)
Administrasi hanya dapat dikendalikan secara
efisien apabila titik tolak penyelenggaraannya berada pada hasil (output)
kerja.
d.
Controlling
Controlling bisa diartikan sebagai satu konsep
terpadu guna mengendalikan administrasi secara efisien dan ekonomis – dalam
rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh politik. Untuk bisa berfungsi
seperti ini, controlling harus menyediakan informasi yang dibutuhkan pada saat
yang tepat. Pengadaan informasi disesuaikan dengan tingkat kebutuhan yang
dimiliki manajemen politik atau pemerintah sebagai pihak perencana, dan
administrasi sebagai pelaksana.
e.
Orientasi pada warga/pelanggan
Intisari New Public Management berbunyi: ”Segala sesuatu yang tidak
bermanfaat bagi warga adalah pemborosan.” Kalimat ini mengungkapkan bahwa
administrasi bukanlah tujuan akhir, dan ia hanya punya satu tugas, yakni
memberikan layanan kepada rakyat yang memang berhak mendapatkannya. Di beberapa
negara pernah dikembangkan apa yang disebut “citizen charta” (piagam
warga) yang merangkum hak-hak apa saja yang dimiliki warga sebagai pembayar
pajak kepada negara. Ini artinya, warga tidak lagi dilihat sebagai abdi,
melainkan sebagai pelanggan yang karena pajak yang dibayarkannya mempunyai hak
atas layanan dalam jumlah tertentu dan kualitas tertentu pula.
f.
Personalia
Personalia merupakan faktor kunci bagi suksesnya
sebuah proses modernisasi. Modernisasi administrasi publik hanya akan berhasil
apabila potensi sumber daya manusia dimanfaatkan secara maksimal, atau – jika
ada kekurangan di bidang ini – memperbaiki sumber daya manusianya (human
capital). Dalam proses modernisasi penting sekali melibatkan karyawan,
karena tanpa itu hanya akan dicapai ketidakpastian dan seringkali sikap
penolakan (boikot) yang merintangi pelaksanaan reformasi.
g.
Teknik
informasi
Prinsip-prinsip manajemen yang telah diuraikan di
atas beserta seluruh bentuk pengendalian membutuhkan suatu sistem informasi
yang sempurna. Penggabungan informasi dan komunikasi yang cepat, pemadatan data
untuk pengendalian dan kemungkinan mengakses kumpulan data guna memenuhi
keinginan pelanggan. Semua itu membutuhkan jaringan alat pengolahan data
sehingga pekerjaan bisa dilakukan dengan cepat, dan, terutama sekali bisa
dipercaya.
h.
Manajemen kualitas
Setiap produk – termasuk pekerjaan yang mengiringi
produk tersebut – memiliki sejumlah ciri yang bisa dibedakan.
Paradigma
NPM melihat bahwa paradigma manajemen terdahulu kurang efektif dalam memecahkan
masalah dalam memberikan pelayanan kepada publik. Karena itu, Christopher Hood mengungkapkan bahwa ada tujuh prinsip-prinsip NPM, yaitu :
1. Pemanfaatan manajemen profesional dalam
sektor publik.
2. Penggunaan indikator kinerja.
3. Penekanan yang lebih besar pada
kontrol output.
4. Pergeseran perhatian ke unit-unit yang lebih
kecil.
5. Pergeseran ke kompetisi yang lebih tinggi.
6. Penekanan gaya sektor swasta pada
penerapan manajemen.
7. Penekanan
pada disiplin dan penghematan yang lebih tinggi dalam penggunaan sumber daya.
Orientasi NPM
NPM ini telah mengalami berbagai
perubahan orientasi menurut Ferlie, Ashbuerner, Filzgerald dan Pettgrew dalam
Keban (2004 : 25), yaitu:
- Orientasi The Drive yaitu mengutamakan nilai efisiensi dalam pengukuran kinerja.
- Orientasi Downsizing and Decentralization yaitu mengutamakan penyederhanaan struktur, memperkaya fungsi dan mendelegasikan otoritas kepada unit-unit yang lebih kecil agar dapat berfungsi secara cepat dan tepat.
- Orientasi in Search of Excellence yaitu mengutamakan kinerja optimal dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
- Orientasi Public Service yaitu menekankan pada kualitas, misi dan nilai-nilai yang hendak dicapai organisasi publik, memberikan perhatian yang lebih besar kepada aspirasi, kebutuhan dan partisipasi “user” dan warga masyarakat, termasuk wakil-wakil mereka menekankan “social learning” dalam pemberian pelayanan publik dan penekanan pada evaluasi kinerja secara berkesinambungan, partisipasi masyarakat dan akuntabilitas.
Langganan:
Komentar (Atom)


